Gandustv.com, Palembang – Setelah Iir Iir Dipo Dipo saya jarang mendengar batanghari lagi kecuali kemarin dari salah satu pendiri Rejung Pesirah Ali Goik di The Alts hotel.
Saya melihat sebuah korporasi hotel sekelas bintang lima mau mendukung ekpresi Seniman Lokal itu merupakan hal yang luar biasa, dimana pemerintah daerahnya sendiri belum mampu memfasilitasi gedung kesenian, tapi mewacanakan museum ikan.
Marketing itu seni mempengaruhi dari “mindshare” ke “heartshare” dan itu dipahami betul oleh The Alts Hotel, karena “marketing is not only direct selling”, mereka pandai menciptakan “market avengelish”, mareka pandai melihat peluang arus kebudayaan besar model “Korean Hallyu Wave”, sebagai sebuah produk yang layak jual, sayangnya tidak semua korporasi “ngeh” dengan pendekatan marketing model begini, sebagian terjebak dengan orientasi “cost reduction” , kalau biayanya besar dan tidak menghasilkan langsung dipangkas, itu pun yang melekat dalam pandangan birokrasi. Bukan pendekatan rasio efisiensi, jika pertumbuhan pendapatan berbanding lurus dengan biaya, berapun volumenya, khan jadi profit juga.
Saya mau menyampaikan jika semua musik batanghari mampu naik level sampai bintang lima, tentulah musisinya tidak perlu repot cari tambahan lain. Tetapi menjadi bintang lima tentulah butuh proses, tidak menjadi sekadar. Seperti membangun sinergi seperti yang dilakukan mereka ini Vebri Al Lintani Marta Astra Eriq Zain dengan korporasi dan pemerintahan… maka batanghari akan naik level ke bintang lima.(Isgon)
BATANGHARI BINTANG LIMA, Catatan Iqbal J Permana












