BERITA  

KH Yahya Cholil Staquf Resmi Sandang Gelar Pangeran Natogamo Dari Sultan Palembang Darussalam

Gandustv.com, Palembang – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, menerima gelar kehormatan Kerabat Kesultanan Palembang Darussalam pada Sabtu (25/7/2026).

Prosesi penganugerahan akan berlangsung di Balairung Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam di Jalan Sultan M Mansur, Kecamatan IB II Palembang dan dipimpin langsung Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jayo Wikramo R.M. Fauwaz Diradja, S.H., M.Kn, Sabtu (25/7/2026).

Hadir diantaranya Mufti Kesultanan Palembang Darussalam Pangeran Muhammad Mustofa, Raden Zainal Abidin Rahman Dato’ Pangeran Puspo Kesumo, Pangeran Mas’ud Khan, Dato’ Pangeran Nato RM Rasyid Tohir, Pangeran Jayo Syarif Lukman, Dato’ Pangeran Suryo Dr Kemas Ari Panji Spd Msi , Dato’ Pangeran Suryo Febri Irwansyah (Vebri Al Lintani), Pangeran Suryo Ali Goik, Pangeran Sastro Fir Azwar, Pangeran Wiro Iskandar Sabani, Radenayu Rahmaniah, Putri Ayu Niago Levi Budhiarty, Putri Ayu Suryo Anna Maria, Putri Ayu Rita Purnamasari , Youtuber Palembang Mang Dayat dan Raden Genta Laksana , seniman Palembang Imansyah, kerabat Kesultanan Palembang Darussalam lainnya seperti Ketua Umum Forum Pariwisata dan Budaya (Forwida) , Dr. Ir. Diah Kusuma Pratiwi, MT, Ketua Dewan Kesenian Palembang M Nasir , Kiki Kirana, Ketua Kerukunan Keluarga Pedangdut Palembang (KKPP) Kiagus M Ridwan, Sayid Muhammad Abdullah, Baba Muhammad Erwin, Ketua Kopzip Ridlwan Setiawan.

Juga hadir diantaranya Dr. H. Amin Said Husni yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dan KH. Amir Ma’ruf yang menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU, Wakil Ketua PWNU Sumsel, Kemas Khoirul Mukhlis, Sekretaris PWNU Sumsel, Achmad Syaifudin Zuber,

Acara dipandu oleh Dato’ Pangeran Suryo Febri Irwansyah (Vebri Al Lintani) dan di awali dengan kedatangan Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jayo Wikramo R.M. Fauwaz Diradja, S.H., M.Kn didampingi Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir.

Kemudian, dilanjutkan dengan prosesi masuknya Pusaka Kerajaan Palembang Darussalam yang terdiri dari Kitab Suci Al Quran dan sebilah buah keris dan sebilah pedang yang di bawa oleh tiga orang pria.

Lalu pembacaan syair Sultan Mahmud Badaruddin II oleh Mufti Kesultanan Palembang Darussalam Pangeran Muhammad Mustofa,
Selanjutnya pembacaan Wartikah Sultan Palembang Darussalam Nomor: Kesultanan Palembang Darussalam/ Kerabat Dalam /005/VII /2026 tentang pemberian gelar kehormatan Kerabat Kesultanan Palembang Darussalam yang dibacakan oleh Raden Zainal Abidin Rahman Dato’ Pangeran Puspo Kesumo didampingi sejumlah pangeran dalam Kesultanan Palembang Darussalam lainnya dan berdasarkan Wartikah Sultan Palembang Darussalam, Gus Yahya mendapatkan gelar Pangeran Natogamo KH Yahya Cholil Staquf.

Selanjutnya Gus Yahya mendapatkan pin dan pengalungan selempang hijau-merah-hijau garis kuning, mulai dari bahu kanan ke pinggang kiri terakhir mendapatkan Wartikah Sultan Palembang Darussalam yang diserahkan langsung Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jayo Wikramo R.M.Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn.
Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jayo Wikramo R.M. Fauwaz Diradja, S.H., M.Kn., menegaskan bahwa Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, layak menerima gelar kehormatan dari Kesultanan Palembang Darussalam.

Menurutnya, penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas jasa dan kontribusi Gus Yahya dalam pelestarian adat, budaya, serta penguatan kehidupan sosial di Indonesia, termasuk bagi Kerabat Kesultanan Palembang Darussalam.
SMB IV mengatakan, berbagai gerakan yang dilakukan Nahdlatul Ulama selama ini telah memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat, khususnya dalam menjaga suasana yang damai dan kondusif di Kota Palembang.
“Beliau layak mendapatkan gelar kehormatan karena telah memberikan jasa dan sumbangsih bagi adat dan budaya di Indonesia, termasuk kepada Kerabat Kesultanan Palembang Darussalam. Gerakan-gerakan Nahdlatul Ulama juga telah memberikan nuansa yang baik sehingga Palembang tetap kondusif,” katanya.

Sultan juga menjelaskan bahwa hubungan antara Kesultanan Palembang Darussalam dan Nahdlatul Ulama telah terjalin sejak lama.
Hal itu menurutnya tidak terlepas dari peran kakeknya dari sebelah ibu bernama KH Husein Affandi Samadani yang merupakan Penasihat di kedutaan Indonesia untuk Arab Saudi dan menetap di Mekkah di era presiden Soeharto merupakan salah satu tokoh Nahdlatul Ulama.
“Karena itu kami merasa menjadi bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama. Kami berharap dapat terus bersinergi dalam mengembangkan adat dan budaya Palembang Darussalam melalui berbagai pendekatan, baik melalui agama, budaya, maupun media lainnya,” katanya.

Menurut Sultan, pemberian gelar kehormatan seperti ini bukanlah hal baru. Kesultanan Palembang Darussalam secara rutin memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh yang dinilai berjasa dalam menjaga dan melestarikan adat serta budaya.
“Kegiatan seperti ini akan terus berlanjut, terutama bagi tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi nyata terhadap pelestarian adat dan budaya Kesultanan Palembang Darussalam,” ujarnya.

Terkait harapannya kepada PBNU, Sultan berharap organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut semakin solid dan mampu memperkuat kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat.
“Saya berharap PBNU semakin kompak, semakin sukses, dan terus bersinergi dengan seluruh kader serta para pemangku kepentingan,” ungkapnya.
Menanggapi komitmen Gus Yahya dalam memperkuat nilai keberagaman, Sultan juga menyampaikan harapannya agar Nahdlatul Ulama terus mengembangkan peran di bidang pendidikan.

Menurutnya, keberadaan lebih banyak lembaga pendidikan akan menjadi sarana penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat persatuan bangsa.
Ia berharap seluruh elemen masyarakat, termasuk berbagai organisasi kemasyarakatan dan lembaga pendidikan di Indonesia, dapat terus berkembang dan bekerja sama dalam menjaga persatuan, melestarikan budaya, serta membangun kemajuan bangsa.

Sedangkan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, menyampaikan rasa syukur dan bangganya setelah menerima gelar kehormatan dari Kesultanan Palembang Darussalam dalam sebuah prosesi adat yang berlangsung khidmat.
Yahya menyampaikan terima kasih kepada Sultan Mahmud Badaruddin IV Jayo Wikramo beserta keluarga besar Kesultanan Palembang atas kehormatan yang diberikan kepadanya.
“Alhamdulillah, saya menyampaikan terima kasih, syukur, dan bangga karena telah menerima kehormatan dari keluarga Kesultanan Palembang,” ujar Yahya.

Ia menegaskan bahwa dirinya akan menjaga amanah sebagai bagian dari keluarga besar Kesultanan Palembang dengan menjunjung tinggi nilai-nilai, martabat, dan tradisi yang diwariskan oleh para leluhur.

Menurut Yahya, Kesultanan Palembang Darussalam merupakan salah satu warisan peradaban besar Nusantara yang memiliki peran penting dalam membangun persatuan, menjaga harmoni, serta memelihara kerukunan di tengah kehidupan masyarakat.
“Kesultanan Palembang adalah warisan peradaban besar Nusantara. Saya meyakini bahwa Kesultanan Palembang memiliki kekuatan budaya yang mampu menyatukan masyarakat serta menjaga harmoni, kerukunan, dan persatuan,” katanya.

Yahya juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga pesan-pesan luhur para pendahulu sebagai bekal dalam mempertahankan keutuhan bangsa Indonesia. Menurutnya, persatuan menjadi modal utama dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
“Mudah-mudahan pesan-pesan dari para leluhur mampu terus menjaga keutuhan bangsa Indonesia, menggalang persatuan bangsa dan negara, serta membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih maju dan berjaya sebagaimana pernah dicapai oleh nenek moyang kita di Palembang dan di seluruh Nusantara,” tuturnya.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin Yahya Cholil Staquf . Doa tersebut dipanjatkan sebagai ungkapan syukur sekaligus harapan agar bangsa Indonesia senantiasa diberi keberkahan, persatuan, dan keselamatan. Dan terakhir acara di lanjutkan dengan tradisi makan bersama yaitu ngobeng atau ngidang.