Gandustv.com, Palembang – Di tengah derasnya arus modernisasi yang seringkali menggiring generasi muda pada krisis identitas dan moral, langkah Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menginisiasi Retret Laskar Pandu Satria adalah sebuah keputusan strategis yang patut diapresiasi—bukan hanya sebagai program daerah, tetapi sebagai bentuk investasi jangka panjang untuk keberlanjutan kepemimpinan bangsa.
Sebanyak 100 siswa yang digembleng selama 11 hari di Bumi Perkemahan Gandus tidak hanya dididik secara fisik, tetapi juga ditempa mental dan spiritualnya. Gubernur dengan tegas menyebut bahwa program ini bukan proyek politik atau komersial, melainkan “tempat kita memasang fondasi yang benar untuk keberlangsungan negara kita.” Kalimat ini bukan hanya retoris, tetapi merefleksikan visi kenegaraan yang luhur: membangun dari akarnya, yaitu manusia.
Sebagai seorang yang memandang dari kaca mata hukum dan pendidikan, saya melihat program seperti ini sangat selaras dengan tujuan hukum nasional, yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang berkeadaban. Dalam hukum Islam, pembangunan karakter generasi muda bahkan telah menjadi warisan kenabian. Rasulullah ﷺ sendiri, sebelum menegakkan syariat secara sistemik, mempersiapkan generasi muda seperti Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid, Abdullah bin Mas’ud, dan Anas bin Malik—sebuah generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga unggul dalam moral, loyalitas, dan keberanian.
Generasi Muhammad ﷺ bukan generasi yang hanya pandai berdebat, tetapi generasi yang tunduk pada nilai-nilai tauhid, adab, dan pengabdian. Sebagaimana sabdanya:
> “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Retret Pandu Satria adalah bentuk nyata dari upaya menyempurnakan akhlak generasi muda kita hari ini. Ia menjadi laboratorium moral, tempat para siswa belajar mengenal dirinya, menata hidupnya, dan menanamkan kesadaran bahwa hidup mereka bukan hanya milik pribadi, tetapi bagian dari bangunan besar bernama bangsa.
Dari sudut pandang hukum negara, pembinaan generasi muda adalah perintah konstitusional. Pasal 31 UUD 1945 mengamanatkan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan bertujuan tidak hanya untuk mencerdaskan secara akademis, tetapi juga membentuk karakter dan peradaban bangsa yang bermartabat. Maka, program ini adalah manifestasi dari amanat konstitusi, bukan sekadar proyek lokal.
Namun, program seperti ini tidak boleh berhenti di Gandus. Ia harus menjadi gerakan sosial nasional. Jika benar survei independen menunjukkan perubahan sikap signifikan di kalangan peserta, maka negara harus menjadikannya sebagai model pendidikan karakter berbasis nilai, disiplin, dan keteladanan. Terlebih, di hadapan kita terbentang agenda Indonesia Emas 2045, di mana tongkat estafet kepemimpinan akan berpindah ke generasi yang hari ini sedang duduk di bangku sekolah.
Oleh karena itu, kita tak bisa lagi hanya menilai keberhasilan generasi muda dari tinggi-rendahnya IQ, tetapi juga harus menakar mereka dari kekuatan integritas, keberanian moral, serta komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan. Seorang pemimpin masa depan bukan hanya tahu cara mengelola kekuasaan, tapi juga tahu batasannya, dan itu hanya bisa ditanam melalui pembinaan karakter sejak dini.
Saya percaya bahwa langkah Gubernur Sumsel adalah bentuk ijtihad kebijakan yang patut didukung dan ditiru oleh daerah lain. Di saat sebagian besar energi politik tersedot oleh narasi perebutan kekuasaan, Sumsel memberi contoh bahwa mempersiapkan manusia jauh lebih penting daripada memperebutkan jabatan.
Dan sebagai orang hukum, saya melihat bahwa kebijakan yang berorientasi pada pembinaan manusia adalah inti dari keadilan. Hukum tanpa karakter hanya melahirkan penegak hukum yang bengis, birokrat yang oportunis, dan rakyat yang permisif. Tetapi hukum yang bertumpu pada manusia berkarakter akan membentuk tatanan sosial yang berkeadaban.
Akhirnya, mari kita sadari: masa depan Indonesia bukan ditentukan oleh debat elit hari ini, tetapi oleh nilai-nilai yang ditanamkan pada generasi muda sekarang. Retret Pandu Satria bukan sekadar kegiatan tahunan; ia adalah sekolah masa depan, tempat kita membentuk pemimpin yang bukan hanya berpikir, tapi juga beradab.
Oleh:
Adv. IDASRIL FIRDAUS TANJUNG, SE., SH., MM., MH
(Ketua Dewan Kehormatan Federasi Advokat Republik Indonesia (FERARI) DPD Sumatera Selatan)
Menanam Karakter, Menuai Kepemimpinan: Retret Pandu Satria dan Tanggung Jawab Kita pada Generasi Muda












