BERITA  

Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah “Dikhianati” Demi Seremonial Belaka

Gandustv.com, Palembang – Dahulu, Festival Sriwijaya diniatkan sebagai mercusuar—sebuah suar yang memancarkan cahaya keagungan Sriwijaya ke cakrawala dunia. Namun hari ini, kita dipaksa mengecap rasa getir: sebuah perayaan tahunan yang kian asing dari wajahnya sendiri. Akibat ketumpulan nurani dalam memahami akar, festival ini tak lagi menjadi sakramen sejarah, melainkan sekadar keriuhan administratif yang hampa. Inilah potret sebuah “pengkhianatan” terhadap ruh leluhur yang melahirkannya.
Setidaknya, ada lima noktah hitam yang menandai degradasi nilai-nilai luhur tersebut dalam kesunyian:

1. Amputasi Momentum: Saat Napas Sejarah Diniagakan Sejarah adalah perihal waktu yang sakral. Festival Sriwijaya sejatinya adalah kidung peringatan atas lahirnya Kedatuan Sriwijaya, sebagaimana terpatri abadi dalam Prasasti Kedukan Bukit. Para penjaga ingatan sepakat bahwa perjalanan suci (Siddhayatra) Dapunta Hyang untuk membangun Wanua di Palembang bermula pada 16 Juni 682 Masehi—detik yang menjadi rahim bagi eksistensi Palembang.
Namun kini, waktu seolah menjadi komoditas yang fleksibel; ia digeser dan ditekuk demi urusan teknis dan pertimbangan cuaca. Mengabaikan tanggal sakral ini adalah bukti nyata bahwa penyelenggara gagal memahami bahwa sejarah bukan sekadar angka di atas kalender, melainkan napas yang menghidupkan detak jantung ingatan kolektif bangsa.

2. Dislokasi Ruang: Memutus Tali Pusat dari Tanah Leluhur Setiap peradaban memiliki “rahim” yang membesarkannya. Festival sejarah wajib berakar di tanah aslinya. Taman Wisata Kedatuan Sriwijaya (TWKS) bukan sekadar hamparan lahan; ia adalah titik koordinat spiritual, saksi bisu penemuan Prasasti Kedukan Bukit, dan berada di bawah naungan Bukit Seguntang yang legendaris. Di sanalah hulu memori tentang Sang Nila Utama dan Parameswara bermula—tokoh yang diempukan dalam kitab Sulalatus Salatin.
Memindahkan festival ini secara serampangan hanya akan memutus koneksi batin antara masyarakat dengan moyangnya. Tanpa pijakan di situs asli, festival ini kehilangan genius loci—semangat tempat yang seharusnya menjadi kompas energi. Ia kini menjelma menjadi “gelandangan budaya”; megah di panggung, namun kehilangan rumah tempat ia seharusnya pulang bersimpuh.

3. Kedangkalan Narasi: Gempita di Tengah Kekosongan Terjadi kemerosotan makna yang menyayat hati. Seharusnya, setiap fragmen festival menjadi ruang kontemplasi—sebuah sajian teatrikal yang menggetarkan sukma tentang filosofi Siddhayatra. Namun yang tersaji justru sebaliknya: keriuhan yang dangkal. Tanpa kedalaman narasi, festival ini luruh menjadi hiburan generik yang riuh namun hampa; ia ramai oleh suara, namun sunyi dari jiwa kepahlawanan dan spiritualitas masa lalu.

4. Pergeseran Visi: Martabat yang Menjadi Komoditas Terjadi pergeseran paradigma yang fatal: dari Festival Budaya menjadi sekadar Festival Wisata. Dalam kacamata pariwisata yang picik, keberhasilan hanya diukur dari statistik kunjungan dan kemilau permukaan. Padahal, festival budaya menuntut pemuliaan, edukasi, dan laku sujud pada akar tradisi. Transformasi ini menjadikan Festival Sriwijaya tak lebih dari barang industri, bukan lagi simbol identitas yang harus dijaga marwahnya dengan komitmen batin yang mendalam.

5. Ironi Usia 34 Tahun: Gagal Menjadi Kiblat Peradaban. Menginjak usia ke-34, Festival Sriwijaya seharusnya telah mencapai puncak kematangan. Ia semestinya menjadi magnet dunia, sebuah “Pusat Mudik” bagi jiwa-jiwa dari negara tetangga yang dahulu bernaung di bawah panji Sriwijaya. Palembang, sebagai jantung kedatuan, memiliki wibawa untuk memanggil dunia kembali ke pelukan “rumah” ini. Namun ironisnya, jangankan mengundang dunia, merawat martabat di tingkat lokal saja kita masih tertatih di bawah bayang-bayang ego birokrasi yang kaku.

Epilog: Ironi Anggaran dan Kemiskinan Visi
Luka ini kian menganga karena alasan klasik: efisiensi anggaran. Sungguh sebuah paradoks yang menyedihkan ketika anggaran kebudayaan dipangkas atas nama penghematan, sementara anggaran perjalanan dinas dan program yang menguntungkan oknum tetap mengalir tanpa bendungan. Mengorbankan kualitas festival budaya adalah bentuk nyata dari kemiskinan visi. Ini bukan soal ketiadaan uang, tapi soal hilangnya rasa hormat pada kemuliaan sejarah.

Mengembalikan Festival Sriwijaya ke TWKS bukan sekadar soal memindahkan dekorasi panggung, melainkan upaya memulihkan martabat peradaban yang autentik. Didukung oleh museum yang hidup, festival ini seharusnya menjadi perjalanan spiritual, bukan sekadar latar belakang untuk swafoto.
Sudah saatnya para pemangku kebijakan berhenti bekerja secara “hantam kromo” demi menggugurkan kewajiban kalender. Tanpa kembali ke khitah, Festival Sriwijaya hanya akan menjadi perayaan yang asing di rumahnya sendiri—sebuah upacara tanpa sukma di tanah para raja.
Palembang, 7 Mei 2026.

Oleh: Vebri Al Lintani
(Ketua Lembaga Budaya Komunitas Batanghari Sembilan)