BERITA  

Seminar Nasional di Palembang Kupas Jejak NU di Sumsel, Generasi Z Didorong Perkuat Nilai Aswaja

Gandustv.com, Palembang – Seminar Nasional bertajuk “Meneladani Sejarah NU Kota Palembang untuk Memperkuat Identitas Aswaja Gen Z” digelar di Rumah Dinas Wali Kota Palembang, Rabu (24/6/2026). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi perjalanan panjang Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus membahas tantangan yang dihadapi generasi muda di era digital.

Seminar menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya tokoh dan sejarawan NU KH Abdul Mun’im DZ, penulis buku sejarah NU Sumatera Selatan Ahmad Dailami, sejarawan Palembang Dr. Kemas A.R. Panji, S.Pd., M.Si., serta dihadiri Wali Kota Palembang H. Ratu Dewa dan jajaran pengurus Nahdlatul Ulama.

Dalam pemaparannya yang berjudul “Sejarah NU: Dari Metropolitan ke Megapolitan”, KH Abdul Mun’im DZ menjelaskan bahwa NU lahir pada 31 Januari 1926 di Surabaya sebagai respons para ulama terhadap kondisi bangsa yang masih berada dalam penjajahan.

Menurutnya, setelah Perang Jawa atau Perang Diponegoro, masyarakat Nusantara mengalami berbagai bentuk penindasan yang berdampak pada melemahnya kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, dan keagamaan.
“Dalam situasi tersebut para ulama mendirikan Nahdlatul Ulama sebagai wadah perjuangan untuk membangkitkan kembali umat melalui pendidikan, penguatan akidah Ahlussunnah wal Jamaah, dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa memasuki usia satu abad pada tahun 2026, NU menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan masa awal berdirinya. Jika pada abad pertama NU berjuang melawan kolonialisme, maka pada abad kedua organisasi ini dituntut mampu menjawab tantangan digitalisasi, perkembangan teknologi, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Karena itu, NU dinilai perlu memperkuat eksistensinya di kawasan urban dan megapolitan dengan memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana dakwah, pendidikan, dan penguatan identitas keislaman.

Sementara itu, penulis buku Sejarah Nahdlatul Ulama Sumatera Selatan 1926–2025, Ahmad Dailami, mengungkapkan bahwa embrio NU di Sumatera Selatan telah muncul sejak Muktamar I NU tahun 1926 di Surabaya.
Menurutnya, dua ulama Palembang, yakni KH Kemas Abdullah Azhari dan KH Abubakar Bastari, tercatat sebagai peserta muktamar tersebut.
Perjalanan pembentukan NU Sumatera Selatan kemudian mencapai momentum penting pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi pada 26 April 1934 ketika KH Sayyid Abdullah Gathmir Alkaf ditunjuk sebagai Konsul HBNO Sumatera Selatan.
“Momentum ini menjadi tonggak resmi berdirinya NU Sumatera Selatan,” jelasnya.

Seminar juga mengungkap empat tokoh yang dianggap sebagai perintis atau muassis NU Sumatera Selatan, yakni KH Kemas Abdullah Azhari, KH Abubakar Bastari, KH Sayyid Muhammad bin Salim Alkaf, dan KH Sayyid Abdullah Gathmir Alkaf.

Melalui jaringan majelis taklim, pesantren, dan madrasah yang mereka dirikan, ajaran Ahlussunnah wal Jamaah berkembang pesat dan menjadi fondasi pertumbuhan NU di Sumatera Selatan.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua LAKPESDAM PWNU Sumsel, Dr. Kemas A.R. Panji, menjelaskan bahwa NU lahir dari tradisi pesantren yang telah berkembang di Nusantara selama berabad-abad.

Menurutnya, pesantren bukan hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi pusat pembentukan karakter, pengembangan keilmuan, dan pemberdayaan masyarakat.
“Pemikiran NU tumbuh dari perpaduan ajaran Islam dengan realitas sosial budaya masyarakat Nusantara sehingga mampu menghadirkan Islam yang moderat, inklusif, dan berakar kuat pada budaya lokal,” katanya.

Ia juga menjelaskan konsep Islam Nusantara yang selama ini sering disalahpahami. Menurutnya, Islam Nusantara bukan agama maupun mazhab baru, melainkan pendekatan dakwah Islam yang menghargai budaya dan kearifan lokal tanpa meninggalkan prinsip-prinsip syariat.

Wali Kota Palembang H. Ratu Dewa yang membuka seminar tersebut mengapresiasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) karena konsisten menghadirkan ruang intelektual bagi generasi muda.
Menurutnya, pemuda saat ini tidak hanya dituntut memiliki kecerdasan akademik, tetapi juga harus memiliki karakter, daya kritis, serta kepedulian sosial.
“Generasi muda harus mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas keagamaan dan kebangsaannya,” ujarnya.

Ratu Dewa mengajak generasi Z untuk mengamalkan empat prinsip utama Ahlussunnah wal Jamaah, yaitu Tawasuth (moderat), Tasamuh (toleran), Tawazun (seimbang), dan I’tidal (adil).
Ia menilai nilai-nilai tersebut sangat relevan dalam menghadapi tantangan era digital yang sarat dengan arus informasi, polarisasi, dan perubahan sosial yang cepat.
Ketua PCNU Kota Palembang, Abdul Malik Syafei, SHI, MH, menilai media sosial menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi generasi muda saat ini.

Menurutnya, penyebaran ujaran kebencian, polarisasi, dan informasi yang tidak terverifikasi dapat memengaruhi cara berpikir generasi muda apabila tidak dibentengi dengan pemahaman keagamaan yang baik.
“Tantangan terbesar kita hari ini adalah media sosial. Karena itu kader-kader muda NU harus menjadikan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah sebagai kompas dalam kehidupan bermasyarakat,” tegasnya.

Melalui seminar nasional tersebut, para peserta diharapkan tidak hanya memahami sejarah perjuangan para ulama NU di Sumatera Selatan, tetapi juga mampu mengambil nilai-nilai perjuangan tersebut sebagai bekal menghadapi tantangan zaman.
Memasuki usia satu abad pada 2026, Nahdlatul Ulama diharapkan tetap menjadi kekuatan sosial-keagamaan yang mampu menjaga tradisi keilmuan, memperkuat kebangsaan, serta menghadirkan Islam yang moderat dan rahmatan lil alamin di tengah dinamika dunia modern.