Gandustv.com, Palembang – Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Sumatera Selatan bekerja sama dengan Dewan Kesenian Palembang (DKP) menggelar Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) bertajuk “Pemertahanan Seni dan Budaya Kota Palembang”, Sabtu (11/7/2026), di Gedung Kesenian Palembang.
Hadir diantaranya Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP), M. Nasir, Ketua HISKI Komisariat Sumsel, Ernalida, S.Pd., M.Hum., Ph.D berserta pengurus, Ketua Koalisi Masyarakat Puisi Sumsel, yang juga Budayawan Sumatera Selatan, Anwar Putra Bayu, Ketua Komunitas Batang Hari (KOBAR) 9, Vebri Al Lintani, Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kota Palembang Dr Kemas Ari Panji Spd Msi dan jajaran pengurus DKP.
Acara juga diselingi dengan penandatangan perjanjian Kerjasama antara Hiski Komisariat Sumsel dan Koalisi Masyarakat Puisi.
Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP), M. Nasir, berharap Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) bertajuk “Pemertahanan Seni dan Budaya Kota Palembang” dapat menghasilkan rumusan bersama dalam upaya menjaga keberlangsungan seni dan budaya tradisional Palembang.
Menurut M. Nasir, forum diskusi tersebut menjadi ruang bagi para akademisi, budayawan, seniman, dan pegiat budaya untuk bertukar pikiran dalam mencari langkah yang tepat mempertahankan seni tradisi yang mulai tergerus perkembangan zaman.
“Kami berharap melalui diskusi ini kita dapat menemukan formulasi yang tepat dalam upaya mempertahankan seni dan budaya Palembang. Pertemuan ini menjadi ruang untuk mencari jalan tengah dan solusi bersama,” ujarnya.
Ia mengatakan, istilah pemertahanan menunjukkan adanya tantangan yang dihadapi seni tradisional saat ini. Menurutnya, berbagai faktor menyebabkan seni budaya lokal semakin sulit bertahan.
“Seniman tradisi jumlahnya semakin sedikit, minat generasi muda juga mulai berkurang. Di sisi lain, arus budaya dari luar semakin kuat di era globalisasi. Ini menjadi tantangan yang harus kita hadapi bersama,” katanya.
Selain itu, M. Nasir menilai perhatian terhadap pengembangan seni dan budaya masih perlu ditingkatkan, baik dari pemerintah maupun seluruh pemangku kepentingan. Dukungan kebijakan, pembinaan, dan pendanaan yang berkelanjutan dinilai penting untuk menjaga eksistensi seni tradisional.
Meski demikian, ia optimistis diskusi tersebut dapat menjadi awal lahirnya berbagai gagasan dan program yang bermanfaat bagi pelestarian budaya Palembang.
“Perubahan besar sering kali berawal dari langkah-langkah kecil. Mudah-mudahan pertemuan ini menjadi titik awal lahirnya pemikiran dan kerja sama yang dapat memberikan manfaat lebih besar bagi pengembangan seni dan budaya Palembang di masa depan,” katanya.
Ketua HISKI Komisariat Sumsel, Ernalida, S.Pd., M.Hum., Ph.D., mengatakan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga kekayaan budaya Palembang agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
“Kita melihat masih banyak hal yang dapat dilakukan untuk mempertahankan budaya Palembang. Tujuannya agar generasi muda mengenal, memahami, dan mencintai warisan budaya yang kita miliki,” ujarnya.
Menurut Ernalida, sejumlah unsur budaya mulai tergerus, salah satunya penggunaan bahasa Palembang di kalangan anak-anak. Selain itu, berbagai tradisi dan kuliner khas yang dahulu memiliki makna budaya juga mulai jarang dikenal.
Ia mencontohkan makanan tradisional seperti kemplang besar, yang pada masa lalu digunakan dalam berbagai upacara adat. Menurutnya, warisan budaya semacam itu perlu kembali diperkenalkan kepada masyarakat.
“Dulu saya pernah meneliti makna makanan khas Palembang. Ada kemplang besar yang digunakan dalam acara adat. Hal-hal seperti ini perlu kita angkat kembali agar masyarakat, khususnya generasi muda, mengetahui nilai budaya yang terkandung di dalamnya,” katanya.
Ernalida menjelaskan, HISKI merupakan organisasi yang berfokus pada pengembangan sastra Indonesia dan sastra daerah dengan jaringan komisariat di berbagai provinsi di Indonesia. Namun, menurutnya, pelestarian sastra tidak dapat dipisahkan dari pelestarian budaya secara menyeluruh.
“Bagi kami, sastra merupakan bagian dari budaya. Karena itu, perhatian kami tidak hanya pada karya sastra, tetapi juga terhadap berbagai bentuk seni dan budaya yang berkembang di Palembang,” jelasnya.
Ia menambahkan, budaya lokal seperti Wayang Palembang juga perlu mendapat perhatian. Meski memiliki keterkaitan sejarah dengan wayang dari Jawa, Wayang Palembang telah berkembang dengan karakter dan ciri khas tersendiri sehingga layak dipertahankan sebagai identitas budaya daerah.
Ernalida berharap kegiatan ini menjadi langkah awal membangun kesamaan persepsi mengenai pelestarian budaya Palembang sehingga dapat melahirkan program-program nyata di masa mendatang.
“Kami berharap diskusi ini tidak berhenti pada forum saja, tetapi berlanjut menjadi berbagai kegiatan pelestarian budaya, seperti penulisan tentang seni dan budaya Palembang, pengembangan puisi berbahasa Palembang, puisi religius, seni tari, hingga pengenalan destinasi wisata budaya yang dapat dikenal masyarakat luas, bahkan dunia internasional,” katanya.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut berkontribusi dalam menjaga dan mengembangkan kekayaan seni serta budaya Palembang sebagai warisan yang harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ketua Koalisi Masyarakat Puisi Sumsel, yang juga Budayawan Sumsel, Anwar Putra Bayu, menegaskan pentingnya dukungan berbagai pihak dalam upaya pelestarian dan pengembangan seni budaya daerah.
Dalam kesempatan itu, Anwar mengaku bersyukur karena karya-karya sastra yang dihasilkannya mendapat perhatian dari kalangan akademisi dan menjadi objek penelitian di perguruan tinggi.
“Sebagai seorang pengarang, tentu saya merasa senang ketika karya yang ditulis tidak hanya dibaca, tetapi juga diteliti dan dikaji secara akademis. Ini menunjukkan bahwa karya sastra masih memiliki ruang dan relevansi di tengah masyarakat,” ujarnya.
Menurut Anwar, pengembangan seni dan budaya tidak dapat berjalan sendiri tanpa adanya dukungan kelembagaan yang kuat. Ia menilai perlu adanya sinergi antara pemerintah, lembaga kebudayaan, perguruan tinggi, dan sektor swasta agar berbagai program kesenian dapat terlaksana secara berkelanjutan.
Ia mengungkapkan, Dewan Kesenian Palembang sebenarnya telah memiliki berbagai program dan rencana kegiatan. Namun, pelaksanaannya sering terkendala oleh keterbatasan anggaran.
“Kami memiliki banyak gagasan dan program untuk mengembangkan seni budaya. Namun, persoalan pendanaan masih menjadi tantangan yang sering dihadapi,” katanya.
Meski demikian, Anwar optimistis berbagai program tetap dapat diwujudkan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak. Ia mengapresiasi dukungan sejumlah lembaga yang mulai membuka peluang kerja sama, termasuk untuk pengembangan sastra dan kebudayaan hingga tingkat internasional.
Anwar juga mengenang masa-masa ketika komunitas seni di Palembang mampu melaksanakan berbagai kegiatan besar meski dengan keterbatasan dana. Menurutnya, semangat berkarya dan kreativitas para seniman harus terus dipertahankan.
“Pada era 1990-an, banyak kegiatan seni dan budaya yang dapat dilaksanakan meskipun dengan dana yang terbatas. Yang terpenting adalah semangat untuk berkarya dan membangun jejaring,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap para seniman dan budayawan di Sumatera Selatan tidak hanya fokus pada kegiatan lokal, tetapi juga mulai memperluas jejaring hingga ke tingkat nasional dan internasional.
“Kita memiliki potensi budaya yang besar. Tinggal bagaimana potensi tersebut dipromosikan dan didorong agar dapat dikenal lebih luas, termasuk di tingkat internasional,” pungkasnya.
Ketua Komunitas Batang Hari (KOBAR) 9, Vebri Al Lintani, menilai pelestarian budaya tidak bisa hanya dibebankan kepada komunitas seni dan budaya. Menurutnya, pemerintah memiliki tanggung jawab yang diamanatkan undang-undang untuk melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, dan membina kebudayaan daerah.
Vebri mengatakan, hingga kini para pelaku budaya masih menghadapi keterbatasan dukungan, terutama dalam hal pendanaan dan kebijakan yang berpihak pada pengembangan kebudayaan daerah.
“Persoalan kebudayaan bukan hanya tanggung jawab komunitas, tetapi juga menjadi kewajiban pemerintah sebagaimana diamanatkan dalam peraturan perundang-undangan. Karena itu diperlukan kebijakan yang mampu memberikan ruang dan dukungan nyata bagi pelaku budaya,” ujarnya.
Ia menilai penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) harus benar-benar menempatkan kebudayaan asli Palembang sebagai prioritas. Menurutnya, berbagai objek pemajuan kebudayaan yang menjadi identitas daerah perlu didokumentasikan, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi muda.
“Sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam, banyak karya sastra dan pemikiran ulama berkembang di lingkungan keraton Palembang . Pengaruh Islam kemudian membentuk karakter budaya Palembang yang berbeda dengan masa sebelumnya, misalnya melalui penggunaan motif-motif geometris dan dekoratif yang menjadi ciri khas seni Islam,” jelasnya.
Ia menilai identitas budaya Palembang saat ini kerap tertutupi oleh penggunaan nama Sriwijaya dalam berbagai institusi maupun simbol daerah.
“Nama Sriwijaya memang memiliki nilai sejarah yang besar, tetapi jangan sampai kebudayaan Palembang Darussalam justru tenggelam. Banyak masyarakat lebih mengenal Sriwijaya melalui berbagai nama lembaga, sementara kekayaan budaya Palembang sendiri kurang mendapat perhatian,” katanya.
Karena itu, Vebri mengajak seluruh pihak, mulai dari perguruan tinggi, komunitas budaya, pemerintah, hingga masyarakat, untuk bersama-sama menggali, mendokumentasikan, meneliti, dan mempopulerkan kembali kekayaan budaya Palembang.
Menurutnya, berbagai tradisi lisan, sastra daerah, hingga kebiasaan masyarakat, seperti tradisi meninabobokan anak dengan syair-syair lokal, merupakan warisan budaya yang mulai ditinggalkan dan perlu dihidupkan kembali.
“Penggalian terhadap sastra dan tradisi lokal sangat penting sebagai upaya menjaga identitas budaya Palembang agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi mendatang,” tutupnya.
Gelar FGD, HISKI Sumsel Gandeng DKP Bahas Strategi Pemertahanan Seni dan Budaya Palembang












