BERITA  

FORWIDA Sumsel Gelar Kunjungan Budaya ke Sentra Kerajinan Ogan Ilir: Survei, Pendataan, dan Dukungan untuk Industri Kreatif Lokal

Gandustv.com, Ogan Ilir, Sumatera Selatan — Forum Pariwisata dan Budaya (FORWIDA) Sumatera Selatan melaksanakan kegiatan wisata budaya sekaligus pendataan pengrajin tradisional di dua desa penghasil kerajinan, yaitu Desa Tanjung Batu dan Desa Tanjung Pinang, Kabupaten Ogan Ilir. Kegiatan ini berlangsung dalam rangka mendukung pelestarian budaya dan pengembangan industri kreatif lokal yang menjadi bagian penting dari identitas Sumatera Selatan.

Sebanyak 26 peserta turut serta dalam kunjungan ini, yang dipimpin langsung oleh Ketua FORWIDA Sumsel, Dr. Ir. Diah K. Pratiwi, MT. Dalam keterangannya, beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melakukan survei proses pembuatan kerajinan, melihat langsung kondisi para pengrajin, serta menilai dukungan pemerintah terhadap keberlangsungan usaha mereka.

Fokus Pendataan: Kerajinan Tradisional dan Aksesori Adat

Tim FORWIDA mendata sejumlah pengrajin yang memiliki keahlian dalam bidang:

Kerajinan perak

Pandai besi

Pembuatan kain gabeng khas Palembang

Aksesori pernikahan adat Palembang seperti paksangko, gandik, aesan gede, dan lainnya

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya dokumentasi dan pelestarian warisan budaya yang semakin langka, sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat proses kreatif di balik produk-produk budaya tersebut.

Observasi Lapangan: Tradisi dan Adaptasi Teknologi

Dalam kunjungan tersebut, peserta melihat langsung proses pembuatan berbagai kerajinan. Beberapa pengrajin kain masih menggunakan alat tradisional tenun yang diwariskan secara turun-temurun. Sementara itu, pada proses pandai besi, terlihat adanya adaptasi teknologi: alat pemanas tradisional yang sebelumnya dipompa secara manual kini telah digantikan dengan blower angin, yang lebih efisien namun tetap mempertahankan teknik dasar pembuatan besi secara tradisional.

Agenda Mendatang: Lokakarya dan Pameran Budaya

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, FORWIDA Sumsel akan menyelenggarakan lokakarya dan pameran budaya pada bulan November mendatang. Acara ini dirancang sebagai wadah edukasi bagi generasi milenial dan Gen Z, dengan menampilkan karya-karya para pengrajin yang telah dikunjungi. Tujuannya adalah untuk membangun apresiasi terhadap kerajinan lokal serta mendorong regenerasi pelaku industri kreatif berbasis budaya.

Dr. Diah menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada dokumentasi, tetapi juga pada keterlibatan aktif masyarakat dan dukungan lintas sektor. “Kami berharap kegiatan ini menjadi jembatan antara pengrajin tradisional dan generasi muda, serta membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah dan pelaku industri kreatif lainnya,” ujarnya.

FORWIDA Sumsel terus berkomitmen untuk menjadi motor penggerak pelestarian budaya dan pariwisata berbasis komunitas di Sumatera Selatan, dengan pendekatan yang inklusif, edukatif, dan berkelanjutan.